oleh

Bayi Kurang Gizi di Jeneponto Butuh Bantuan

 

JENEPONTO, SEKILASINDO.COM – Supandi, seorang bayi laki laki yang kurang gizi sudah 2 (dua) hari menjalani perawatan di RSUD Lanton Daeng Pasewan, sejak Jum’at (25/01/2020), kemarin. Dengan kondisi ekonomi yang sangat kurang, sangat membutuhkan bantuan baik dari pemerintah maupun masyarakat yang peduli. Supandi merupakan anak dari Daeng Ngani, salah satu warga Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang tinggal di Rumah Tidak Layak Huni dan sudah hidup tanpa seorang ayah.

Saat menemani bayinya, Daeng Ngani, sang ibunda mengatakan, sebelumnya ia di telepon oleh salah satu pihak Puskesmas Bulusibatang yakni Ibu Murni.

“Iya kemarin saya ditelpon sama ibu Puskesmas Bulusibatang, Ibu Murni disuruh bersiap-siap mau dijemput, katanya saya mau dibawah ke rumah sakit umum lanto daeng pasewang untuk perawatan lebih lanjut terhadap bayi saya,” ungkap Ngani, dengan penuh kesedihan, saat di ruang rawat inap pada Sabtu (25/01/2020).

Ia bersama bayinya pun dijemput dan langsung di bawa ke Rumah Sakit, serta mendapat pelayanan dengan baik.

“Iya, selama saya masuk baik pelayanannya bahkan sampai ini,” imbuhnya.

Namun, dengan keterbatasan ekonomi, sang ibunda bayi kurang gizi tersebut sangat berharap kepada Pemerintah Daerah dan ukuran tangan para dermawan agar bisa meringankan bebannya. Walapun sudah di rumah sakit mendapat pelayanan dan dijamin pihak rumah sakit selama dua hari dirumah sakit, dia tak punya apa-apa, bahkan uang pun dia tak punya bahkan makanan selama dirumah sakit hanya pemberian dari orang satu kamarnya saja.

“Saya ini tidak punya uang, mau belanja tidak ada, bahkan mau makan disini hanya satu kamar yang biasa dia kasih kesaya berupa makanan,” ungkapnya dengan nada lirih dan penuh kesedihan.

Sebagai orang tua, ia pun masih khawatir dengan kondisi anaknya yang satu nya lagi yang ditinggal sama keluarga di kampung, karna anaknya yang satu tidak bisa masuk di rumah sakit. Ia berharap agar kakaknya berada disamping disini menemani adiknya.

“Iya, Kemarin anak ku yang satu (kakaknya) kesinii, dan sampai saat ini saya tidak tahu lagi anak ku yang pertama itu tinggal dimana dan dia makan dimana, siapa yang ngurus kalau mau pergi ke sekolahnya,” terangnya.

Terbawa suasana, ia bercerita kehidupannya, selama kematian suami nya beberapa bulan yang lalu. Semenjak itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dia hanya berharap kepada tetangganya, dan hidup hanya sebagai buruh jika ada yang menyuruhnya untuk menanam padi dan jagung.

“Saya biasa pergi menanam padi dan jagung yang penting ada uangnya, kalau ada yang panggilkan, bahkan ada juga yang biasa kasih saya dua puluh ribu rupiah, ada pula yang kasih lima puluh ribu kalaw dia kasihan sama saya,” katanya.

Reporter: Firman

News Feed