oleh

Terkendala Faktor Ekonomi, Bayi di Jeneponto Butuh Bantuan Pemerintah

 

JENEPONTO, SEKILASINDO.COM – 
Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kabupaten Jeneponto, Bernama Dg Ngani, yang menghudupi dua orang anaknya itu, tak kuat melihat salah satu orang anaknya, bernama Sapriadi yang masih berusia satu tahun tujuh bulan.

Sapriadi yang masih tergolong bayi ini kondisinya cukup memprihatinkan. Ia di duga terserang gizi buruk sejak lahir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lanto Dg Pasewang Jeneponto bebarapa bulan lalu.

Bayi berjenis laki – laki itu, selain kekurangan gizi, potret memilukan tersebut cukup menggugah hati. Mereka bernaung di sebuah rumah yang sangat tidak layak huni tanpa seorang bapak, tinggal di Desa Tanammawang, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Bayi tersebut kehilangan sosok bapak sejak usianya menginjak satu tahun 3 bulan. Bapaknya bernama Dg Sane meninggal dunia dua bulan lalu.

Ibu dari bayi itu mengatakan sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Ironisnya, semenjak bayi ini masih dalam kandungan sang Ibu tidak pernah mendapatkan gizi secara teratur. Untuk kebutuhan hari – harinya saja berharap uluran tangan dari orang lain.

“Sejak saya mengandung makanan saya tidak teratur. Bahkan untuk dipakai saja masak tidak ada karena tidak ada beras. Saya dapat uang kalau ada yang panggil tanam padi dan menanam jagung. Kadang dikasih uang 50 ribu. Itu pun kalau musim bercocok tanam,” ucap Dg Ngani (Ibu dari bayi itu) kepada Media, Kamis (23/01/2020).

Namun yang sangat memilukannya lagi, ketika sang ibu ini menceritakan cuitannya. Bayi tersebut pernah kehabisan susu, Ibunya hanya masak air biasa diisi dot kemudian dikasih minumkan ke bayinya karena tidak punya uang untuk beli susu.

Sang ibu juga iba terhadap anak pertamanya bernama, Mantang yang masih duduk dibangku SD Kelas 4, kadang putus sekolah demi menjaga sang bayi (adeknya) saat ibunya pergi bantu – bantu petani untuk sesuap nasi hanya sekedar bertahan hidup.

Ia mengaku pernah didatangi Pejabat, Wakil Bupati Jeneponto, Paris Yasir beberapa bulan lalu memberikan batuan berupa uang tunai Rp 200 ribu, namun habis digunakan beli susu.

Selain itu, Ia juga akui pernah didatangi Camat Bontoramba bersama pihak Puskemas Bulusibatang membawakannya tambahan makanan dan susu buat si bayi tersebut baru – baru ini.

“Anakku tidak sakit ji cuma kurang gizi. Pihak Puskemas Bulusubatang juga bilang begitu. Kalau Ibu Bidan selalu ji datang di rumah melihat kondisi anakku pak,” ujar Ani.

Dg Ngani juga membeberkan jika sama sekali tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah seperti PKH dan bantuan beras.

“Ia sangat membutuhkan rumah yang lebih layak untuk ditempatinya tinggal bersama kedua orang anaknya tersebut, termasuk kebutuhan hidupnya,” bebernya.

Sementara itu, Dokter Umum Puskemas Bulusibatang, Kecamatan Bontoramba, dr. Ika Novi Astuti membenarkan hal tersebut. Bayi yang dimaksud memang kekurangan gizi. Bayi itu normal.

“Kalau dliihat dari fisik, bayi itu tidak sakit dia hanya kurang gizi saja. Dia tidak sakit, tidak demam dan juga tidak ada keluhan lain,” kata dr. Novi.

Kalau kondisinya memang cukup memprihatinkan. Salah satu faktor ekonomi yang tidak mendukung sehingga bayi ini kurang terawat sehingga menyebabkan kurang gizi.

“Mungkin Ibunya mau beli susu tetapi uang yang menjadi kendala. Kalau kami (Puskesmas Bulusibatang) tetap ada kontrol, paling tidak dibantu obat dan tambahan makanan bergizi. Apalagi kita juga punya program bulanan untuk melakukan pendataan bayi di setiap dusun,” tutup Novi.

Reporter: Firman

News Feed