oleh

HGN 2019, Kasek SMAN 5 Sinjai Kritisi Pidato Menteri Nadiem

SINJAI, SEKILASINDO.COM – Aliyuddin, Kepala UPT SMAN 5 Sinjai mengkritisi isi pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, di Hari Guru Nasional (HGN) tanpa adanya penyataan tentang kesejahteraan guru.

Menurutnya, tuntutan kesejahteraan guru sudah dipenuhi dengan adanya tunjangan profesi guru (TPG) atau tunjangan sertifikasi, baik ASN maupun Non ASN (GTT) yang mencapai standar mutu guru.

“Sedangkan ASN yang belum mendapat TPG diberikan tunjangan Non Sertifikasi dan GTT/honorer yang memenuhi syarat diberikan tunjangan mengajar dari dana BOS,” terangnya.

Kasek mengaku, sebagai guru berpendapat bahwa perubahan-perubahan yang diharapkan Mendikbud dari bawah (guru) hanya dapat terjadi apabila para guru dikembalikan statusx sebagai pegawai pemerintah pusat dalam naungan Kemendikbud yang diperbantukan di daerah, sehingga semua kebijakan pemerintah dapat langsung di eksekusi oleh guru tanpa melalui proses birokrasi daerah yang rumit, termasuk manfaat dari tunjangan-tunjangan pegawai Kemendikbud juga dapat diterima oleh guru.

Selanjutnya, mengenai pembiayaan oleh Kemendikbud khusus dan fokus pada pembangunan Mutu Pendidikan dan pemenuhan guru.

“Pembiayaan Pembangunan Sarpras infrastruktur sekolah oleh pemerintah diberikan kepada Kementerian PUPR dan pemerintah daerah masing-masing serta melibatkan masyarakat melalui Komite Sekolah,” tuturnya.

Kasek beranggapan bahwa, jika sekolah diberikan kemerdekaan mengelola dana operasional sekolah (BOS) yang dikhususkan untuk belanja barang dan jasa kegiatan operasional sekolah, tidak lagi ada belanja buku dan belanja modal lainnya.

“Tidak perlu BOS Afirmasi dan Kinerja, serta sekolah diberikan kewenangan untuk melibatkan masyarakat khususnya orang tua siswa dalam pembiayaan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan siswa,” ucapnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (26/11/2019).

Sebelumnya, Kasek, membacakan pidato Mendikbud saat melaksanakan upacara peringatan HGN di halaman sekolah, Senin (25/11/2019).

Dalam teksnya, Menteri Nadiem menyampaikan ucapan Hari Guru Nasional yang mana tugas guru menurutnya termulia dan tersulit.

“Tugas guru yang termulia, sekaligus tersulit karena guru harus menjadi contoh, teladan dan panutan,” ucapnya.

Nadiem mengajak para guru melakukan perubahan berawal dari karakter yang termulia.

Kata Nadiem, regulasi dan aturan seringkali tidak berpihak kepada guru, tugas administrasi yang banyak, memberikan penilaian subyektif dan tidak jujur untuk mengejar target oleh pemangku kepentingan demi keseragaman yang dirancang oleh para pakar dalam bentuk Kurikulum.

“Artinya, untuk guru merdeka, maka regulasi, aturan dan kurikulum haruslah direvisi untuk melaksanakan tugas yang termulia,” tambahnya.

Perubahan adalah hal sulit dan penuh ketidaknyamanan, namun perubahan tidak dapat dimulai dari atas, semuanya berawal dan berakhir dari guru.

“Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama, lakukan perubahan kecil. Artinya, untuk guru penggerak harus berubah, meninggalkan zona nyaman dan menata kembali proses pembiasaan hal-hal yang kecil dimulai dari guru dengan tetap menjaga integritas dalam koridor tugas yang termulia,” jelasnya.

(Aswin Rasyid)

News Feed