oleh

Miris, Kakek dan Nenek Tinggal di Rumah Beratap Baleho Dinding Terpal

PANDEGLANG, SEKILASINDO. COM- Surnaja dan Ratnasari kakek dan nenek menempati rumahnya di kebun yang tak layak huni tanpa penerangan listrik sudah hampir 17 tahun lamanya. Permintaan bantuan untuk dia yang difasilitasi pemerintah setempat belum juga direspons dan realisasi.

Dinding dan atap kediaman Surnaja terbuat dari baleho dan terpal seadanya, lokasinya di kebun miliknya desa Jaya Mekar, Kecamatan Jiput , Kabupaten Pandeglang-Banten, rumah berlantai tanah dan papan seadanya.

Pria yang beristri Ratnasari ini tidak punya pilihan lain selain menghabiskan sisa hidupnya di rumah tak layak untuk ditinggali tersebut.

Himpitan ekonomi Pria 75 tahun itu tak mampu merehab rumahnya sendiri. hanya pasrah, berharap program bantuan pemerintah yang sejak lama dinanti namun tak kunjung tiba.

“Sudah berapa kali pemerintah mendata rumah saya, tapi hingga sekarang ditunggu bantuan pemerintah tidak ada, kalau di foto sering tapi sampai saat ini belum ada, saya berharap pada pemerintah agar kiranya bisa membantu memperbaiki rumah saya atau membantu bentuk apa saja karena di sini banyak orang mampu malah dapat bantuan ” tutur Kakek Sarnaja ketika ditemui kediamannya, Rabu (17/7).

Sebenarnya, ia tak berpangku tangan. Pada usianya yang senja, Surnaja menafkahi dirinya dan istrinya. Tetap bekerja seadanya.

Surnaja dengan penghasilannya yang cuma cukup untuk makan tersebut, setiap musim penghujan Surnaja selalu khawatir ketika berada dalam rumah. Ia tak mampu memperbaiki atap kediamannya itu.

Air hujan selalu masuk melalui celah-celah Baleho atap rumahnya. Begitu pula ketika cuaca panas, cahaya matahari menembus ke dalam rumahnya.

Surnaja sudah terbiasa bergelut dengan kondisi tersebut. Dia tidak mau menyusahkan orang lain. Hanya doa yang bisa dipanjatkan agar kehidupan bisa membaik. “Bersyukur aja,” lugasnya.

Kepala desa jaya mekar Oji, menjelaskan selain rumah Sarnaja, srkitar 50 Rumah Tak Layak Huni (RTLH) di wilayahnya.

“Saya sudah mengajukan RTLH sekitar 50 rumah sekitar tahun 2017, namun sudah memasuki tiga tahun ini, kami belum pernah mendapat bantuan bentuk RTLH,” ungkapnya.

Oji sendiri mengaku malu dengan warganya. Pihaknya sudah beberapa kali melakukan pendataan terhadap warga yang tinggal di RTLH. Tapi dana untuk memperbaiki rumah-rumah tersebut tak kunjung diturunkan dari otoritas di atasnya.

Seolah-olah, kata dia, pihak desa yang berbohong kepada warganya. “Saya sering ditanya masyarakat kapan bantuan rumah itu mereka dapat, sementara pendataan sudah lama dilakukan. Saya bingung mau jawab apa, saya kasian pada mereka, saya berharap kepada pihak yang berwenang agar bisa membantu RTLH pada warga saya” pungkasnya. (Ade m)

News Feed