oleh

Ekologi Masyarakat Maritim

-Opini, Pendidikan-183 views

OPINI, SEKILASINDO.COM– Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang interaksi atau hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Ekologi berasal dari bahasa yunani yaitu Oikos yang berarti habitat dan logos yang berarti ilmu.

Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup berupa popiulasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi juga merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Sedangkan, masyarakat maritim adalah masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas sosial ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya wilayah pesisir dan lautan.

Karakteristik sosial ekonomi masyarakat maritim pada umumnya bermata pencaharian di sektor kelautandan perikanan seperti nelayan, pembuat kapal dan sarana prasarana laut. Dari segi tingkat pendidikan masyarakat maritim masih rendah serta kondisi lingkungan pemukiman masyarakat maritim khususnya nelayan masih belum tertata dengan baik dan masih terkesan kumuh.

Tetapi, dari segi ekonomi dapat dikatakan cukup mampu karena mereka hidup dan berhubungan langsung dengan sumber mata pencahariannya yang juga merupakan rumah kedua bagi masyarakat maritim. Sehingga terjadi hubungan timbal balik yang antara masyarakat maritim dengan lingkungan tempat tinggalnya.

Dengan terjadinya hubungan timbal balik antara masyarakat maritim dengan lingkungannya terkhususnya dengan laut, kepercayaan-kepercayaan pun muncul baik dari segi ritual, adat istiadat, dan bahkan keyakinan yang dianut. Masyarakat percaya jika kepercayaan tersebutdilakukan dapat memberikan keuntungan yang melimpah.

Namun di era yang serba modern ini, kecanggihan teknologi membuat kepercayaan-kepercayaan yang dianut dari leluhur atau turun-temurun sudah mula memudar dan diabaikan oleh sebagian masyarakat pesisir atau maritim.

Kesadaran ekologi atau hubungan timbal balik antara masyarakat maritim dengan lingkungan sekitarnya biasanya dipengaruhi oleh sistem kepercayaan yang dianut dari leluhur secara turun-temurun dan juga dipengaruhi oleh lembaga struktural dari pemerintahan melalui sosialisasi kepada masyarakat maritim itu sendiri.

Namun, tidak semua masyarakat maritim mendapatkan sosialisasi akan pentingnya hubungan timbal-balik dengan alam sekitar. Secara tidak langsung hubungan timbal balik antara masyarakat maritim dengan alam sekitarnya dapat berpengaruh pada kehidupan dan penghasilan masyarakat maritim itu sendiri.

Seperti, pencemaran laut dengan limbah-limbah, sampah-sampah yang dibuang sembarangan itu dapat merusak ekosistem baik di laut maupun di darat dan juga berimbas pada penghasilan nelayan.

Salah satu daerah masyarakat maritim di Indonesia adalah di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Di daerah tersebut terdapat beberapa desa atau kelurahan, tiga diantaranya yaitu Tana Beru, Sapaloe, dan Tana Lemo.

Warga di Desa Tanah Beru, masyarakatnya masih kental dengan kerpercayaantradisional bahwa laut dikuasai oleh Nabi Khaidir atauLau sehingga masyarakat takut untuk berbuat yang tidak baik dilaut, namun kesesadaran masyarakat akan kebersihan laut dan pantai masih kurang.

Masyarakat di Kelurahan Sapaloe, belum sepenuhnya memahami tentang kebersihan karena masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan. Pemahaman bersih menurut mereka adalah ketika masyarakat tidak lagi buang air di laut.

Ada pula kepercayaan nenek moyang mereka yang mengatakan bahwa lumba-lumba dipercaya sebagai penolong sehingga tidak boleh ditangkap, hal tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait larangan menangkap lumba-lumba.

Penyebab lingkungan di Desa Tana Beru dan Desa Sapaloe masih kotor yaitu, belum adanya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah berupa TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Sementara di kelurahan Tana Lemo, masyarakatnya menjaga kebersihan laut karena memang sudah diajarkan oleh leluhurnya untuk tidak mengotori lautkarena dianggap pamali dan kepercayaan tradisional tersebut juga sejalan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga ekosistem laut dan darat masih terjaga dengan baik sampai sekarang.

Penulis : Tim Ekologi Maritim (Mahasiswa Sosiologi 2017 FIS UNM)

News Feed