oleh

Perkerasan Jalan Desa Terapung Senilai Rp 1,9 Miliar Dituding ‘Asal Jadi’

BUTON TENGAH, SEKILASINDO.COM – Pekerjaan perkerasan jalan desa Terapung – Air Bajo, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), yang menelan anggaran sebesar Rp 1.977.733.000 dari APBD Kabupaten Buteng diduga pengerjaannya asal-asalan oleh pihak pelaksana.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan langsung oleh salah satu warga KanapaNapa, yang juga Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemuda Desa, Andisar, yang diunggah pada laman facebooknya pada 25 september di group Buton Demokratis

Dalam tulisannya, Ia meminta kepada Bupati Buton Tengah, H. Samahuddin dan Dinas PUPR agar segera melakukan pengecekan di lokasi pekerjaan karena diduga kurang mengedepankan kualitas pekerjaan jalan.

“Seharusnya pembuatan talud jalan menggunakan batu gunung tetapi masih banyak menggunakan batu kapur, hal ini terkesan dibiarkan oleh pemerintah kabupaten maupun Dinas PUPR Buton Tengah” tulis Andisar dalam laman group Facebook Buteng Demokratis.

Menurutnya, jika pekerjaan jalan yang menelan anggaran besar, harus dibarengi dengan kualitas yang baik.

Dari itu, dinas PUPR Buteng harus ke lokasi untuk membongkar kembali pembuatan talud karena dianggap tidak sesuai spesifikasi pekerjaan.

sebelum gerakan massa untuk menghentikan pekerjaan yang kami duga akan meraih keuntungan besar tanpa memikirkan kualitas pekerjaan.

Selain itu pula, Direktur LSM ini menyayangkan tidak adanya sikap tegas dinas PUPR Buteng saat berkunjung ke lokasi padahal dapat dipastikan bahwa penggunaan material talud menggunakan batu kapur.

“Kami berharap Bupati Buteng dan PUPR Buteng secepatnya membongkar kembali pembuatan talud dengan material batu kapur,” harapnya.

Dinas PUPR sudah menyampaikan kepada pihak kontraktor agar membongkar kembali talud jalan tersebut dan menggantikan dengan Batu gunung tetapi penyampaian Dinas PUPR Buteng tiidak direspon seolah angin lewat yg hanya memberikan kenyamanan kepada para kontraktor,” tambahnya.

Saat media ini turun untuk meninjau lokasi dan bertemu beberapa warga yang ada di sekitar pekerjaan mengatakan bahwa, pengerjaan talud yang ada di jalur desa terapung-Air bajo dicampur menggunakan batu kapur dan batu gunung.

Melihat hal itu, warga sekitar kaget, namun mereka tidak berani untuk menyampaikan ataupun menegur pekerjaan yang sedang berlangsung.

“Saya juga heran, masa talud pake batu kapur apalagi ini di daerah pantai. Yang jelas kalau kena air saya pastikan akan hancur dan tidak bertahan lama,”tutur salah satu warga yang enggan di sebutkan namannya, Rabu (25/09/2019).

Selain itu, lanjutnya, yang membuat dirinya heran para pelaksana pekerjaan tersebut bukan dari luar daerah melainkan putra daerah yang ada di desa sekitar.

“Saya selalu lihat itu kepala desa KanapaNapa pulang balik cek pekerjaan ini. Kalau begitu ini pekerjaannya to, tapi kenapa begini dikerja harusnya bagus,” herannya.

Saat dikonfirmasi pada Kepala Desa KanapaNapa, Marzuki selaku pihak pelaksana pekerjaan mengatakan batu yang dipakai saat pengerjaan talud bukan menggunakan batu kapur melainkan batu gunung yang diambil di salah satu desa sekitar.

Dirinya mengakui bahwa sebelumnya ada batu kapur saat pengerjaan talud, namun konsultan melarang untuk menggunakan batu kapur, sehingga batu tersebut dipakai untuk menimbun di sekitar pekerjaan.

“Awalnya memang ada itu batu kapur, tapi ternyata dilarang sama konsultan untuk pake batu itu. Bisa tanya ke dinas PU itu kalau batu tidak dipakai lagi karena ada kadis PU dan Kabid Bina Marga saat dikerjakan,” pungkasnya.

Jadi, tambahnya, apa yang menjadi keresahan Direktur LSM pemuda desa tidak benar dan hanya mengada ngada.

Diketahui, pekerjaan perkerasan jalan poros Terapung-Air bajo dikerjakan oleh CV. Fajar Menyingsing milik salah satu ASN di sekretariat Kabupaten Buteng, yang pengerjaannya sudah mencapai 80% dengan panjang 1.200 meter yang menggunakan APBD Buteng.

Hingga berita ini diturunkan, Kadis PUPR, H. Maynu dan Kabid Bina Marga Buton tengah, Hasban,ST masih belum dapat dikonfirmasi. Padahal jelas pekerjaan tersebut menurut warga dan direktur LSM pemuda desa menggunakan batu kapur.

 

Arwin Al-Butuny

 

News Feed