oleh

Resah Dengan Kabar-Kabar Hoax, Buku Thiking Before Judging Dilauncing

-Pendidikan-68 views
      Foto bersama Pembedah dan Penulis Buku

MAKASSAR, SEKILASINDO.COM-Banyaknya berita hoax di media sosial membuat kita banyak terbelah, melahirkan caci maki, dan tidak sedikit menimbulkan permusuhan. Keresahan itu coba diminimalisir dalam acara “Launcing & Bedah Buku Thinking before Judging” karya Muh. Taufiq Al Hidayah, Jum’at, 13 September 2019 di Kedai Malunra, Jl. Mesjid Raya No. 86b Kab. Gowa dan merupakan karya solo pertamanya.

Menghadirkan tiga pembedah yang mewakili berbagai kalangan, seperti Syamsul Arif Ghalib akademisi dosen studi agama-agama UIN Alauddin Makassar, Arif Balla esais mewakili milenial, dan Reski Indah Sari sebagai penggiat literasi Sulawesi Selatan. Dimoderatori oleh Nurjannah Azzahra penulis buku memiliki kehilangan.

Acara yang dimulai pukul 17.00 WITA itu dihadiri oleh peserta mayoritas mahasiswa. Bedah buku dibuka dengan pembedah pertama, Syamsul Arif Ghalib menurutnya setiap karya atau buku yang terbit harus diapresiasi sebab butuh proses panjang untuk menjadikan tulisan-tulisan menjadi sebuah buku.“untuk menjadi sebuah buku, itu tidaklah mudah. Butuh proses yang amat panjang untuk menjadikan sebuah tulisan-tulisan itu menjadi sebuah buku, inilah yang harus kita apresiasi”. Ungkapnya sebagai pembuka.

Sedangkan Reski Indah Sari sebagai pembedah kedua mengatakan buku (red; Thinking before Judging) ini patut dibaca oleh semua kalangan. Buku ini menyajikan masalah-masalah yang sangat dekat dengan realitas saat ini seperti masalah keluarga. “buku ini menyajikan masalah yang dekat dengan kita seperti masalah keluarga, saya cukup mengapresiasi sebab ada tulisan yang menyinggung peran ayah yang kurang dalam mengasuh anak, terus bagaimana dalam setiap khutbah misalnya disisipi masalah parenting. Ini juga yang unik, tidak pernah terpikirkan oleh saya adalah yatim sebelum waktunya, realitanya sekarang banyak anak-anak kita yang mengalaminya”. Ungkapnya.

Lain pula Arif Balla pembedah ketiga mengungkapkan bahwa buku ini secara garis besar terbagi menjadi hal, yakni Islam, literasi, dan hoax, ia juga mengatakan buku ini seakan menampar kita bahwa perpikir dulu kemudian bertindak jangan sebaliknya. “Saya dapat menarik tiga hal dari buku ini, Islam, literasi dan hoax, yang sama kita ketahui bahwa ketiganya senapas, saling bertautan. Buku ini adalah tamparan untuk kita yang sering judging sembarangan tanpa thinking”. Tandasnya.

Buku ini pun tidak terlepas dari kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan sebuah karya. Syamsul misalnya mengkiritik kesalahan penulisan (Typo) dalam buku dan sangat menganggu. “hal yang kemudian harus diperhatikan dalam buku ini adalah Typonya, meski saya hanya menemukan satu kesalahannya. Namun menurut saya harus jadi perhatian sebab typo itu sangat menganggu”. Ungkapnya.
Selain itu, Syamsul juga mengkiritk tulisan yang terbit dua kali di media yang berbeda. Menurutnya itu hal yang tidak patut dan tidak boleh terulang lagi. “terbit dua kali untuk tulisan yang sama itu terlarang, dan dampaknya tidak main-main. Bisa diblack list oleh media. Ini jadi pelajaran untuk kita sebagai penulis pemula”. Ungkapnya.

Reski Indah Sari juga menemukan sepuluh kata penulisannya keliru dan menyarankan agar lebih memperhatikannya. “apa yang diungkapkan oleh Kak Syamsul memang benar, typo itu menganggu, seperti kata tampak yang seharusnya Nampak. Ini harus jadi perhatian penulis dan lebih berhati-hati lagi.

Lain halnya Arif yang menyarankan agar kelak jika ada karya berikutnya agar tulisan-tulisan yang dibukukan itu lebih fleksibel dan tidak kaku agar cocok diberbagai zaman. “Penulis kalau mau berkarya lagi tulisan-tulisannya lebih fresh supaya menyesuaikan dengan perkembangan yang ada, itu juga supaya tulisannya tidak terikat waktu dan kaku’. Ungkapnya.

Acara ini ditutup dengan launcing dan pemberian souvenir dari sponsor kaos kareba Makassar. (AR)

News Feed