oleh

Miskin Itu Indah

-Opini-400 views
Penulis : Firman (Koordinator Institute Filsafat Indonesia)

OPINI, SEKILASINDO.COM- Tentang Kemiskinan merupakan anugrah dari tuhan sebab miskin adalah sesuatu yang dapat ditentukan oleh tuhan. Mengapa gerangan kisah-kisah kemiskinan yang dihadikan dalam reality sho layak jual? Pada awalnya, orang tertarik pada kehidupan nyata barang kali karena ada di sana peristiwa kehidupan yang berujung pada munculnya rasa empati dan keistimewaan yang dicontohkan oleh orang-orang kaya pada si mikin. Orang miskin tidak hanya diberitakan melainkan dapat ditolong oleh orang-orang yang PK terhadap kehidupan.

Siapa yang tidak tertarik dengan fenomena kemanusiaan ini? Menghayati dan memknai kehidupan dunia membuat manusia akan larut dalam beraktivitas kebaikan tanpa batas. Cara ini bisa ditafsirkn sebagai ajakan pada para pemirsa untuk lebih simpati pada orang-orang miskin, kemiskinan menjadi sebuah keberpihakan pada tiap individu atau pada kelompok. Hingga kesadaran hal itu manusia akan berusaha melakukan terbaik demi hidupnya yang sejahterah.

Kemiskinan menjadi barang modal yang jika di kemas dengan baik akan menjadi menarik. Kemiskinan sebagai daya tarik utama, kalau dicermati lebih teliti maka dapat dinyatakan bahwa program Reality Show juga menyedehanakan persoalan kemiskinan yang sangat kompleks, sehingga sampai saat ini belum tertangani dengan baik.

Sebagaimana di katakan oleh Neil Postman (1986) bahwa “televisi dapat mengubah secara berlahan isu yang sesuai menjadi hal yang menghibur”.

Pernyataan ini cukup menarik bahwa televisi dapat mengubah kebenaran yang telah dipertontonkan sehingga hal yang benar itu semua dapat berubah. Narasi yang tertuang melalui televisi hanya simbol semata tak dapat dipercaya secara penuh kebenarannya hingga membuat masyarakat bingun menilai dengan keadaan yang terjadi.

Dengan menayangkan kondisi yang berhubungan dengan kemiskinan suda tentu akan menarik perhatian, keprihatinan karena sebagai manusia kita pasti memiliki rasa empati atau ketertarikan pada kondisi yang mengancam kemanusiaan, entah rasa empati itu muncul dan di alami hanya sesaat saja diwaktu menyaksikan kondisi kemiskinan yang ditayangkan atau memang rasa empati itu benar-benar melahirkan tindakan yang murni untuk menolong dengan cara-cara tertentu.

Ada dua hal yang membuat manusia sadar akan kebaikan, pertama ia harus sadari tentang hidup, kedua ia harus berfikir kedepan tentang strategi apa yang harus dilakukan untuk menempuh jalan kedepan. Jika hal itu sudah tersimpan dalam benak fikiran kita maka ketentuan manusia untuk ingin melakukannya jelas arah jalan kedepannya dan dapat terjaga dengan baik meskipun kita belum tahu bahwa kedepannya hal apa yang terjadi pada diri tapi paling itdak ada rancangan kedepannya.

Ini kita tidak bicara soal kehebatan seorang manusia tetapi bicara soal kehidupan, menjadi manusia yang hidup sejartah atau hidup senang dengan kata lain kaya, dan itu cukup sulit untuk mencapainya. sebelum manusia memikirkan tentang hal itu terlebih dahulu kita harus mempersiapkan mental kita untuk menempuh jalan yang ingin ditempuh. Hampir semua orang mengalami yang namanya susah dan Hal yang lazim dijumpai oleh manusia dalam kehidupannya seperti halnya sesuatu yang direncanakan dengan matang terkadang tidak sesuai dengn kenyataan.

Makanya dalam agama islam kita sebagai umat manusia senantiasa dituntut untuk bersabar dan ikhlas. Sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah Saw. “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (Ali-Imran : 146) semua yang diciptakan oleh allah Swt akan berpasang-pasangan sama halnya orang kaya dengan orang miskin dan begitupun dengan yang lainnya semua akan dapat pasangan. Makanya jangan pernah takut jadi orang miskin, miskin itu indah. (AR)

Penulis : Firman (Koordinator Institute Filsafat Indonesia)

News Feed