oleh

LSM Mapankan Soroti Dana Desa Pannyangkalang

GOWA, SEKILASINDO.COM- Kepala Desa Pannyangkalang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa diduga telah menyelewengkan Anggaran Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2017 lalu.

Hal Ini diungkapkan oleh Ketua DPD LSM Mapankan, Fajar Fachri yang mengatakan dugaan penyelewengan dana desa senilai ratusan juta rupiah untuk berbagai macam kegunaan salah satunya pembangunan paving block jalan kuburan Dusun Ciniayo yang tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Belanja (RAB).

“Volume yang dikerjakan dilapangan sudah kami cek dan diduga tidak sesuai dengan besaran anggaran yang digunakan Rp.56.075.800 sementara di surat perintah kerja (SPK) dengan volume 56 meter, berarti lebih sejuta permeternya,” ungkapnya, Jumat (21/9)

Fajar Fachri juga menambahkan bahwa ada lagi item pekerjaan yang diduga bermasalah dan tidak masuk akal anggarannya yakni pekerjaan toilet dengan ukuran 2 x 2,5 meter yang menghabiskan dana sebesar Rp.44 juta, padahal kalau dilihat fisiknya maksimal hanya Rp.15 juta.

“Kami menduga item pekerjaan ini di markup puluhan juta rupiah, itukan sudah tidak masuk akal, selain itu pagu anggaran yang sudah ditetapkan setelah kami cek tidak sesuai dengan SPK yang dimiliki pihak desa,” jelasnya.

Paling parahnya lagi pembangunan jambanisasi tujuh unit dengan anggaran Rp. 80 juta ini, tidak terealisasi semua, karena hanya ada empat unit kami temukan dilapangan. Ironisnya lagi kondisi konstruksi fisik tidak sesuai dengan anggarannya, kami menduga ada mark up anggaran yang sangat mencolok, bebernya.

Hampir semua item pekerjaan dana Desa Panyangkalang terjadi penyimpangan, termasuk pembangunan paving blok dusun Pa’bundukang dengan volume 147 meter dengan anggaran Rp.143.954.900 dan Volume 115 M dengan anggaran Rp.88.912.900, cuma selisih 32 M tapi selisih anggarannya Rp.45 juta.

“Ada lagi pembangunan pos ronda sebanyak 3 unit, perunitnya itu sebesar kurang lebih Rp.12 juta dan didalam SPK Rp.36.789.300 juta.

“Ini sudah sangat bermasalah, kalau dilihat pembangunan pos ronda itu paling banyak dana yang dikeluarkan sebesar Rp.5 juta saja, tetapi yang dianggarkan kurang lebih Rp.12 juta. Alas duduknya saja, hanya pakai anyaman bambu dan papan,” tutupnya. (Shanty)

News Feed